Minggu, 09 Agustus 2009

Perawatan Penyakit Periodontal Pada Orang Lanjut Usia

Populasi orang lanjut usia kini lebih banyak dibandingkan dengan populasinya di masa lalu. Meningkatnya populasi orang lanjut usia ini pun terjadi di seluruh dunia.1 Populasi penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia mengalami peningkatan signifikan. Berdasarkan data di Komisi Nasional Lanjut Usia (Komnas Lansia) dan Departemen Sosial (Depsos), pada tahun 2000 tercatat sekitar 7,18% penduduk Indonesia berusia lanjut (14,4 juta orang), hingga Mei 2009 jumlah lansia mencapai lebih kurang 20 juta orang atau terbesar keempat di dunia setelah Amerika Serikat, China, dan India, dan diperkirakan pada tahun 2020 jumlahnya akan mencapai 11,34% dari seluruh penduduk Indonesia (28,8 juta orang).2,3

Dalam bidang kedokteran gigi, hal ini berarti bahwa orang lanjut usia tersebut masih mempertahankan gigi geligi aslinya. Bagaimanapun, bertahannya gigi geligi tersebut berarti lebih banyak gigi yang beresiko terkena penyakit periodontal, dan oleh sebab itulah prevalensi penyakit periodontal dapat berkaitan dengan penuaan.1

Penuaan, didefinisikan sebagai proses dimana seseorang menjadi tua seiring berjalannya waktu. Hal ini mencakup interaksi kompleks antara proses biologis, psikologis, dan sosiologis sepanjang waktu. Orang lanjut usia secara riwayat kronologis yaitu berusia 65 tahun. Namun, secara literatur terdapat kategori orang lanjut usia yaitu; (1) orang lanjut usia yang bergantung secara fungsional (dalam keadaan sakit atau lemah); (2) orang lanjut usia yang dirawat dan lemah; (3) orang setengah baya, yaitu berusia 65 – 70 tahun (sehat dan semangat); (4) orang tua, yang berusia 75 – 85 tahun; dan (5) orang yang sangat tua, berusia 85 tahun keatas.4

Perawatan penyakit periodontal yang bijaksana dan efektif pada pasien lanjut usia membutuhkan pengertian mengenai seluruh kondisi kesehatannya. Kondisi periodontal pasien lanjut usia telah mengalami berbagai proses fisiologis, psikologis, dan sosial yang harus diperhatikan saat merencanakan perawatan gigi dan periodontal yang efektif dan sesuai dengan masing – masing individu.5

Tanpa memperhatikan usiapun, kewajiban seorang dokter gigi yaitu untuk mendiagnosa penyakit periodontal dan melakukan perawatan yang tepat berdasarkan evaluasi yang adekuat dari informasi yang ada. Prinsip umum yang harus dipertimbangkan yaitu bahwa perawatan yang diberikan haruslah menguntungkan dan hanya sedikit atau tidak sama sekali merugikan pasien. Karena itulah penting untuk merencanakan perawatan yang didahului dengan analisis dari faktor – faktor yang mempengaruhi hasil dan prognosa dari perawatan itu sendiri.6

Faktor – faktor sistemik seperti status kesehatan umum, gangguan fungsional, ingatan yang mulai memburuk, pengobatan dan fungsi biologis sebaiknya dievaluasi. Sikap dan harapan pasien juga harus dipertimbangkan. Kesuksesan perawatan membutuhkan kerjasama dari pasien, yaitu tidak hanya kemampuan menjaga kebersihan mulut pasien saja tetapi juga kemauan untuk datang kontrol kembali (baik perawatan aktif maupun perawatan suportif). Evaluasi terhadap sikap dan kemampuan fungsional juga penting untuk diperhatikan.6

PENILAIAN PADA PASIEN LANJUT USIA

  1. Riwayat Fisik dan Medis1,4

Pemeriksaan pasien dimulai sejak kunjungan pertama. Yang harus diperhatikan yaitu postur, gaya berjalan, mobilitas, dan karakteristik wajah. Riwayat medis didapat dengan pemeriksaan visual. Pada saat melakukan pemeriksaan riwayat medis, lihat mata pasien, bicaralah dengan jelas, dan tidak berbicara layaknya seorang anak kecil. Perlu diingat bahwa kemampuan visual dan pendengaran pasien telah berkurang. Terkadang terdapat kecenderungan bagi pasien lanjut usia untuk melupakan atau mengacuhkan masalah medisnya. Karenanya, riwayat medis membutuhkan kesabaran yang lebih dari pemeriksa.4

Riwayat medis pada orang lanjut usia sebaiknya terperinci dan meliputi tinjauan kondisi medis dan mental masa lalu dan sekarang, termasuk kunjungan ke rumah sakit baik dalam keadaan darurat maupun tidak serta ada atau tidaknya penyakit yang serius. Tinjauan medis ini harus fokus pada evaluasi penyakit dan kelainan sistemik terutama yang berkaitan dengan perawatan gigi seperti kelainan perdarahan, penggunaan antikoagulan, diabetes, gangguan katup jantung, kondisi kardiovaskular tertentu, stroke, sendi buatan, dan penggunaan kortikosteroid. Disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter yang menangani pasien tersebut terutama pada pasien yang memiliki masalah medis atau jika direncanakan akan dilakukan suatu prosedur yang kompleks dan invasif. Riwayat medis juga mencakup obat – obatan yang dikonsumsi sehari – hari, dan adakah alergi terhadap obat – obatan tertentu, logam, dan alergen lingkungan pada pasien tersebut.1

Orang lanjut usia biasanya mengkonsumsi berbagai obat – obatan dan telah merubah metabolisme dan sensitivitasnya terhadap obat yang diresepkan.4 Kebanyakan obat yang dikonsumsi orang lanjut usia memiliki pengaruh negatif terhadap kesehatan mulutnya. Untuk mendapatkan daftar lengkap dari resep dan obat – obatannya, maka mintalah pasien untuk membawa tiap botol atau kemasan obat ke klinik. Hal ini tidak hanya membantu mendapatkan daftar pengobatan lengkap tetapi juga dapat memberikan informasi tambahan, seperti dosis obat, dan jumlah dokter yang memberikan resep tersebut.1

Riwayat medis juga bisa didapat dari keluarganya, pasangannya (suami/istrinya), atau dari orang lain yang merawatnya jika pasien tersebut sangat bergantung secara fungsional atau lemah atau pasien yang tidak dapat memberikan informasi dengan baik. Ketika memperoleh riwayat medis, penting juga untuk menilai perubahan fungsi motoriknya untuk mendapatkan informasi masalah medis lainnya.4

  1. Riwayat Dental

Pada awalnya, wawancara dengan pasien bertujuan membantu pasien dalam mengutarakan kebutuhan, keinginan, dan nilai perawatan dental. Riwayat dental meliputi waktu pemeriksaan gigi dan kunjungan terakhir ke dokter gigi, pemeriksaan radiograf, dan frekuensi profilaksis gigi. Riwayat dental ini juga meliputi tinjauan restorasi yang lalu, perawatan endodontik, ekstraksi, bedah mulut, perangkat prostetik (termasuk unit lepasan atau cekat baik tunggal maupun multipel), perawatan periodontal, dan perawatan gnatologik. Informasi lain yang berguna mencakup cara perawatan rongga mulut harian dirumah, status fluoride pada air minumnya, serta jenis pasta gigi yang digunakan (mengandung fluoride atau tidak).1

  1. Sosial dan Mental

Sikap pasien lanjut usia terhadap perawatan akan mempengaruhi kesuksesan atau kegagalan perawatan periodontal. Freedman menjelaskan berbagai jenis tingkah laku pasien sebagai berikut: (1) sangat bergantung: banyak permintaan, mendesak, dan berulang – ulang; (2) pseudo-kooperatif: datang tepat waktu, membayar pelayanan, ramah dan mengikuti instruksi, namun entah bagaimana tidak pernah melakukannya diluar klinik; (3) perfeksionis: membuat permintaan yang tidak realistis dengan ancaman terselubung, menjelaskan gejalanya, menyesuaikan gigi tiruannya sendiri, membuat anjuran mengenai diagnosisnya atau rencana perawatan, dan mencoba makan dengan gigi tiruannya dimana ia tidak dapat makan dengan gigi geligi aslinya.4

Kebanyakan pasien lanjut usia menjadi mudah frustasi, terutama dalam lingkungan dental yang mencemaskan. Disisi lain, kebanyakan pasien lanjut usia dapat merespon dengan baik terhadap perawatan dan dapat mentoleransi prosedur yang panjang. Para dokter gigi harus mengetahui dalam merawat individu yang memiliki pengalaman unik, harapan dan kebutuhan tertentu.4

Riwayat sosial diperiksa untuk menentukan usia pasien, penggunaan tembakau (perkiraan jenis dan jumlahnya), penggunaan alkohol dan status caregiver. Status caregiver mengindikasikan tingkat fungsional pasien menjadi mandiri secara fungsional, lemah, atau bergantung secara fungsional.1

PEMERIKSAAN EKSTRAORAL DAN INTRAORAL

  1. Pemeriksaan Ekstraoral

Pemeriksaan ekstraoral yaitu memeriksa kepala dan leher. Pemeriksaan kepala dan leher dilakukan untuk menentukan apakah bentuk tengkorak normal tanpa luka traumatik. Pemeriksaan ini juga meliputi pemeriksaan kulit, nodul, dan saraf kranial yang terlibat dalam fungsi oral. Sendi temporomandibula juga diperiksa. Seluruh pemeriksaan ini untuk melihat apakah ada perubahan dari yang normal, lesi yang jelas terlihat, dan disfungsinya.1

  1. Pemeriksaan Intraoral

Pemeriksaan intraoral yaitu memeriksa seluruh jaringan keras dan lunak dalam rongga mulut. Pemeriksaan ini membantu untuk mengetahui status giginya yaitu restorasi yang lalu, karies, disfungsi oklusi, dan gigi yang hilang. Pemeriksaan periodontal meliputi titik perdarahan saat probing dan kedalaman poket. Pemeriksaan intraoral juga meliputi pemeriksaan bibir, pipi, lidah, gingiva, dasar mulut, palatum, daerah retromolar, dan daerah oropharyngeal untuk mengetahui apakah ada kelainan jaringan, patch merah atau putih, ulserasi, dan pembengkakan. Fokus utama pada pemeriksaan ini yaitu untuk mengetahui apakah ada kanker oral dan pharyngeal.1

JARINGAN PERIODONTAL PADA PASIEN LANJUT USIA

  1. Gingiva

Keratinisasi epitel gingiva yang menipis dan berkurang terjadi berkaitan dengan usia. Keadaan ini berarti permeabilitas terhadap antigen bakteri meningkat, resistensi terhadap trauma fungsional berkurang, atau keduanya. Karena itulah, perubahan tersebut dapat mempengaruhi hasil perawatan periodontal jangka panjang.1

Migrasi epitel junction ke arah permukaan akar dapat disebabkan oleh erupsi gigi melewati gingiva sebagai usaha untuk mengatur kontak oklusal dengan gigi lawannya (erupsi pasif) akibat hilangnya permukaan gigi karena atrisi. Hal ini kemudian berkaitan dengan resesi gingiva. Resesi gingiva yang terjadi pada lanjut usia bukanlah merupakan proses fisiologis yang pasti, namun merupakan akibat kumulatif dari inflamasi atau trauma yang terjadi pada periodontal (seperti menyikat gigi yang terlalu keras).1,5

  1. Ligamen Periodontal

Perubahan pada ligamen periodontal yang berkaitan dengan lanjut usia yaitu berkurangnya fibroblas dan strukturnya lebih irregular, berkurangnya produksi matriks organik dan sisa sel epitel serta meningkatnya jumlah serat elastis.1 Dalam referensi lain disebutkan adanya peningkatan fibrosis dan menurunnya selularitas ligamen periodontal.5

  1. Sementum

Penebalan sementum disepanjang seluruh permukaan akar meningkat seiring dengan bertambahnya usia, dan penebalan ini lebih terlihat pada sepertiga apikal akar. Perubahan ini dapat merupakan akibat dari pemakaian oklusal dan erupsi gigi, meski hal ini juga terjadi pada gigi yang impaksi.5

  1. Tulang Alveolar

Dalam suatu kelompok orang berusia 65 tahun atau yang lebih tua, menunjukkan adanya kehilangan perlekatan dan tulang alveolar yang lebih berat dibandingkan orang yang lebih muda. Gambaran klinis ini kemungkinan terjadi akibat efek dari akumulasi plak dalam jangka waktu yang lama. Faktanya, penelitian klinis menyimpulkan bahwa penuaan kronologis tidak selalu menyebabkan terjadinya kehilangan perlekatan ataupun penurunan penyangga tulang alveolar.5

PERAWATAN PENYAKIT PERIODONTAL

Keberhasilan perawatan penyakit periodontal pada pasien lanjut usia dapat tercapai. Namun, dokter gigi harus mengenal kategori pasien lanjut usia yang harus dirawat dengan memeriksa kondisi fisik dan psikologis serta emosional pasien tersebut. Hal ini penting untuk menentukan prognosis dan rencana perawatan yang akan diberikan terhadap kebutuhan dan keinginan pasien.4 Pada pasien lanjut usia, perawatan non bedah umumnya merupakan pilihan utama. Namun, sesuai dengan penyakit periodontal yang meluas maka perawatan bedah pun dapat dilakukan.1

  1. Perawatan Bedah Periodontal

Tujuan utama perawatan bedah periodontal adalah untuk memberikan pemeliharaan periodonsium jangka panjang dengan memudahkan pembersihan plak dan kontrol plak. Tujuan lainnya yaitu untuk regenerasi pendukung periodontal.6

Usia sendiri bukan merupakan suatu kontraindikasi bagi pembedahan periodontal. Penyembuhan setelah perawatan tidak berbeda antara orang lanjut usia dengan individu yang lebih muda. Namun, terdapat faktor – faktor yang perlu dipertimbangkan dalam melakukan pembedahan pada orang lanjut usia yaitu status kesehatan medis dan mental, status obat – obatan, status fungsional, dan kebiasaan serta gaya hidup, keparahan penyakit, dan kemampuan melakukan prosedur kebersihan mulut, serta kemampuan untuk mentoleransi perawatan. Faktor – faktor tersebut dapat menentukan keberhasilan perawatan bedah periodontal.1,6

Pasien lanjut usia yang dapat diindikasikan untuk dilakukan perawatan bedah peridoontal ini umumnya pasien yang tidak bergantung secara fungsional dan mampu memelihara hasil perawatan bedah tersebut. Pasien tersebut mampu untuk menjaga kebersihan rongga mulutnya, dan mampu untuk datang kontrol dan dilakukan perawatan oleh dokter giginya.1,6

Kontraindikasi perawatan bedah periodontal yaitu bagi pasien lanjut usia yang termasuk dalam pasien yang lemah, bergantung secara fungsional, atau yang tidak dapat bertanggung jawab secara emosional dan psikologis terhadap perawatan bedah periodontal. Pasien tersebut akan memerlukan perawatan non bedah seperti scaling, root planing, dan kontrol berkala, dan bukan dilakukan tindakan bedah periodontal.4

Beberapa hal yang harus dipertimbangkan bila seorang pasien lanjut usia akan dilakukan perawatan bedah periodontal antara lain:4

1. Durasi pembedahan yang dipersingkat.

2. Komunikasi yang terbuka dan hubungan dokter-pasien yang adekuat.

3. Konfirmasi kemampuan pasien untuk melakukan perawatan dirumah yang adekuat.

4. Trauma minimal.

5. Obat – obatan yang dikurangi (karena meningkatnya sensitivitas terhadap obat).

6. Jadwal kunjungan pagi hari. 4

Untuk memudahkan perawatan pemeliharaan paska operasi, penghilangan poket baik pada jaringan lunak maupun keras seringkali dapat membantu dalam perawatan bedah periodontal. Perawatan tersebut dapat menyebabkan terbukanya akar terhadap rongga mulut. Karena karies akar dapat meningkat seiring dengan bertambahnya usia, maka tindakan ini perlu dikurangi, atau dapat juga dilakukan suatu tehnik flap yang memelihara jaringan periodontal dengan tujuan untuk meminimalisir jumlah akar yang terbuka.1,6

Instrumentasi permukaan akar supragingiva juga harus dibatasi untuk menghilangkan kalkulus dengan tujuan melindungi permukaan akar terluar, yang kaya akan fluoride. Sebagai tambahan dalam kontrol plak profesional, tindakan pencegahan karies yang tepat seperti aplikasi fluoride dan anjuran diet harus diberikan untuk meminimalisir resiko berkembangnya karies akar.6

  1. Perawatan Periodontal Suportif

Perawatan periodontal suportif merupakan bagian yang penting dalam perawatan pasien periodontitis.6 Kerry menjelaskan tiga tujuan perawatan periodontal suportif:

· Untuk mencegah perkembangan dan kekambuhan penyakit periodontal pada pasien yang sebelumnya telah dilakukan perawatan untuk mengobati periodontitisnya.

· Untuk mengurangi insidensi hilangnya gigi

· Untuk meningkatkan peluang mengetahui dan merawat penyakit atau kondisi lainnya yang ditemukan dalam rongga mulut.6

Hasil penelitian jangka-panjang menyatakan bahwa orang lanjut usia yang pernah melakukan perawatan pencegahan secara rutin akan memiliki insidensi kehilangan gigi dan perkembangan penyakit periodontal yang rendah. Tantangan dari sudut pandang perawatan suportif ini adalah pemeliharaan pasien yang telah berhasil dirawat dan terus bertahan hingga usia lanjut. Karena pasien seperti ini memiliki resiko yang lebih tinggi terhadap perkembangan penyakit periodontal dan kekambuhannya daripada orang lanjut usia lainnya, dan karena itu pasien tersebut lebih membutuhkan perawatan suportif yang lebih diperhatikan.6

Pasien yang tidak mengikuti perawatan, akan memiliki kebersihan mulut yang buruk atau akan bermasalah secara medis atau lemah dan bergantung secara fungsional, maka perawatan periodontal pendukung paliatif lebih optimal dibandingkan dengan perawatan periodontal komprehensif.

Umumnya, perawatan profesional berkala dapat memperlambat atau bahkan menghentikan perkembangan penyakit. Pada pasien tertentu, terapi antibiotik topikal dapat melengkapi instrumentasi subgingiva selama perawatan suportif.6

Rencana kunjungan berkala untuk pasien periodontal lanjut usia meliputi konsultasi profesional untuk perawatan periodontal pendukung setiap 3 – 6 bulan sekali. Jarak waktu antar tiap kunjungan ditentukan berdasarkan tiap individu, tergantung pada kebersihan mulut standar pasien, tingkat resiko perkembangan penyakit periodontal yang dapat ditoleransi tanpa mempengaruhi seluruh tujuan perawatan dan kondisi kesehatan umum. Pada kunjungan berikutnya, dilakukan pembersihan gigi supragingiva oleh dokter gigi dan semua daerah yang menunjukkan tanda klinis penyakit (perdarahan saat probing) diinstrumentasi subgingiva. Berkumur dengan larutan 0.1 – 0.2% klorheksidin hanya pada kondisi tertentu, dapat digunakan untuk mendukung pembersihan gigi secara mekanis. Bagaimanapun, berkumur dengan klorheksidin tidak akan meningkatkan kondisi periodontal kecuali telah dilakukan instrumentasi subgingiva.

Topikal aplikasi klorheksidin yang terbukti dapat memperlambat rekolonisasi bakteri pada daerah subgingiva pada perawatan poket yang tepat, maka penggunaan antiseptik selama 4 minggu pertama setelah instrumentasi berkala dapat memperpanjang jarak antar tiap kunjungan pada perawatan pendukung.6

KESIMPULAN

Kecenderungan perawatan kesehatan rongga mulut mendatang akan terus meningkat terutama pada pasien lanjut usia yang membutuhkan perawatan periodontal. Para dokter gigi seharusnya sudah dapat memberikan perawatan periodontal komprehensif untuk populasi lajut usia tersebut. Pasien dental lajut usia memiliki kondisi rongga mulut dan kondisi umum tersendiri dimana para dokter gigi juga tidak hanya harus mengetahuinya tetapi juga mendeteksi, berkonsultasi serta merawatnya.1

DAFTAR PUSTAKA

1. Spackman SS, Janet GB., 2006. Periodontal Treatment for Older Adults, in (Carranza’s Clinical Periodontology). 10th ed, St.louis: WB Saunders Company, 93 – 97, 675 - 691.

2. Yon Parjiyono. 2,7 Juta Lansia Rawan Bermasalah Sosial. 30 Juni 2009. http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=228285.

3. Komisi Nasional Lanjut Usia. Tentang Kami. 30 Juni 2009 http://www.komnaslansia.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=25:sekilas-komnas-lansia&catid=34:static&Itemid=28.

4. Carranza FA, 1990. Glickman’s Clinical Periodontology. 7th ed, Philadelphia: WB Saunders Company, 587 – 590.

  1. Wilson Thomas G, Kenneth S Kornman, 2003. Fundamentals of Periodontics. 2nd ed, Carol Stream: Quintessence Publishing Co, 163 – 167.

6. Wennstrom JL. 1998. Treatment of Periodontal Disease in Older Adluts in.Periodontology 2000, vol.16. Denmark. 106 – 111.